World Press Photo 2026 kembali ke Accademia Albertina di Turin dengan 144 gambar yang menyampaikan, melalui mata para fotografer, kompleksitas tahun lalu. Selama tujuh puluh tahun, acara ini telah mempertanyakan hubungan antara fotografi, informasi, dan memori. Ada gambar yang mendokumentasikan suatu peristiwa. Dan kemudian ada gambar yang, di luar pendokumentasiannya, menjadi bentuk di mana peristiwa itu memasuki memori kolektif. Inilah kekuatan World Press Photo, acara internasional terpenting yang didedikasikan untuk fotojurnalisme, yang kembali ke Turin untuk tahun kesepuluh berturut-turut. Dari tanggal 18 September hingga 13 Desember 2026, ruang-ruang tersebut akan menjadi tempat berlangsungnya acara ini.Akademi Seni Rupa Albertina Menyelenggarakan pameran Kontes Foto Pers Dunia ke-69, dengan 144 foto yang diambil oleh 42 fotografer. Angka-angka tersebut sudah menunjukkan besarnya acara: gambar-gambar yang dikirimkan ke kompetisi tersebut berjumlah... 57.376, dibuat oleh 3.747 fotografer dari 141 negaraSeleksi awal dilakukan oleh juri regional independen, diikuti oleh evaluasi oleh juri global. Namun di balik angka-angka ini terdapat pertanyaan mendasar: apa artinya memotret dunia saat ini?
Fotografi sebagai kesaksian
Fotojurnalisme lahir dari kebutuhan untuk melihat. Untuk melihat apa yang terjadi di tempat yang jauh, apa yang seringkali tidak menjadi berita utama, apa yang berisiko dilupakan. Namun, fotografi memiliki karakteristik khusus: ia menangkap sebuah momen dan, pada saat yang sama, menyelamatkannya dari kelupaan. Inilah mengapa World Press Photo bukan hanya pameran fotografi. Ini juga merupakan semacam arsip visual masa kini. Gambar-gambar yang dipilih mencakup konflik, krisis kemanusiaan, transformasi lingkungan dan sosial, tetapi juga kisah-kisah individu, budaya, olahraga, dan kehidupan sehari-hari. Keragaman tema mencerminkan kompleksitas dunia kontemporer dan menawarkan kepada pengunjung serangkaian perspektif, tanpa mereduksi realitas menjadi satu narasi tunggal.
Dari berita ke kenangan
Di sinilah fotojurnalisme bertemu dengan budaya. Sebuah foto yang dibuat untuk menceritakan peristiwa terkini, seiring waktu, dapat menjadi dokumen sejarah, kesaksian sosial, fragmen memori kolektif. Pameran di Turin menyoroti transisi ini: dari gambar yang menjadi bagian dari berita menjadi gambar yang, secara bertahap, menjadi bagian dari sejarah.
Turin, kota fotografi
Kehadiran World Press Photo di Turin bukanlah suatu kebetulan. Kota ini telah membangun identitas yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir melalui fotografi, melalui institusi, festival, dan ruang pameran yang didedikasikan untuk gambar-gambar kontemporer. Selama minggu-minggu yang sama, misalnya, KAMERA – Pusat Fotografi Italia mempersembahkan retrospektif besar pertama Italia yang didedikasikan untuk Harry Gruyaert, berlangsung hingga 4 Oktober, bersamaan dengan pameran yang didedikasikan untuk desainer grafis Werner Jeker. Dengan demikian, Turin menegaskan posisinya sebagai tempat di mana fotografi diamati dari berbagai perspektif: sebagai dokumen, sebagai bahasa artistik, sebagai penelitian grafis, dan sebagai alat untuk menafsirkan kehidupan kontemporer.
World Press Photo 2026 hadir di Turin pada saat batasan antara informasi, fotografi, komunikasi, dan teknologi semakin kabur. Pameran ini mengingatkan kita bahwa, terlepas dari banyaknya alat dan kecepatan produksi serta berbagi gambar, fotografi terus menjalankan fungsinya dengan efektivitas yang luar biasa: saksiMemberikan kesaksian tentang masa kini agar dapat dipahami di masa depan.
